Jumat, 24 Mei 2013

Sunrise Serenade - on Someone Else’s Shoes

buatnyunyu

 

Buat Dea, nulis memoar itu rasanya seperti sengaja dateng telanjang kaki, untuk minjem sepatunya Si Narasumber. Anget kakinya masih nyisa di sepatu. Pasir dan debu yang kebawa dari perjalanannya juga masih nyisa di situ. Meskipun ukuran kaki Si Narasumber nggak sama sama kaki Dea, nemuin cara untuk “standing on someone else’s shoes” – apalagi kalo orangnya inspiratif – adalah permainan peran yang menyenangkan ^_^

Sekitar  dua taunan yang lalu, Gagas Media nawarin Dea nulis memoar Ibu Dian Syarief, penyandang lupus dan pendiri Yayasan Syamsi Dhuha di Bandung. Dea nggak kenal Ibu Dian dan belom pernah nulis memoar. Tapi karena secara intuitif rasanya “baik”, tanpa banyak mikir tawaran itu Dea iya-in.

Ternyata intuisi Dea nggak salah. “Sepatu” Bu Dian menarik sekali. Dia cerita tentang kegiatannya sehari-hari, kisah cintanya sama Pak Eko yang pasti bikin sirik sekaligus terharu banyak orang, dan ketika cerita tentang penyakitnya pun, pancaran energinya tetep positif. Optimismenya adalah harapan yang nguatin banyak orang. Itu yang bikin Dea semakin yakin kalo apa yang “ada di sepatunya” perlu ditulis biar bisa dibagi lebih luas lagi.

Tantangan terberat dari nulis memoar adalah “menyesuaikan ukuran sepatu”. Karena cerita ini ditulis dengan sudut orang pertama – sudut pandang Bu Dian – Dea harus paham persis cara berpikirnya, perasaannya, cara dia ngerespon situasi, bahasa tubuhnya, bahkan gaya bertuturnya. Bagian ini cukup banyak digali dan dibongkar-pasang selama penulisan. Segala cara dilakuin supaya “feel”-nya dapet. Mulai dari baca tulisan Bu Dian, sampai ikut berenang bareng Si Ibu. Tapi seperti yang Dea bilang tadi, “standing on someone else’s shoes” selalu jadi permainan peran yang menyenangkan, apalagi kalo orangnya inspiratif.            

Sekitar bulan April taun lalu, akhirnya Sunrise Serenade terbit. Tepat di Hari Lupus Sedunia, 10 Mei, buku ini diluncurin. Cerita ini juga Dea susun dalem bentuk mixtape yang bisa diunduh di sini  Buat kamu yang pengen tau kira-kira seperti apa ceritanya sebelum beli bukunya, bisa denger mixtape-nya dulu.

Sekarang Dea lagi dalem perjalanan nulis memoar yang lain lagi. Memoar siapa? Hmmm. Ada, deh. Doain aja lancar dan cepet terbit, ya ….

Dea nutup tulisan kecil ini dengan quote klasik yang cukup terkenal, tapi entah siapa yang pertama kali nyetusin:

“You never truly know someone until you’ve walked a mile in her shoes”

Sekian dulu, Temen-temen, sampe ketemu di lain kesempatan.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah ^_^

Sundea

www.salamatahari.com

 

ditulis untuk Nyunyu.com. Artikel asli bisa dilihat di sini.

Jumat, 25 Januari 2013

Hujan Kuning Muda

 

Tulisan ini dimuat di Kriukcreation. Udah lama banget, Dea sampe lupa taun berapa. Yang nggarap temen Dea, EB sama Ika. Sekarang mereka udah jadi suami-istri yang berbahagia dan tetep aktif di berbagai kegiatan indie yang seru =)

 

14958_10151298203512819_549779608_n

Kamis, 17 Januari 2013

Publish Your Writing

publish your writing gogirl

 

-Gogirl Magazine edisi 96/Jan 2013-

 

Tulisan ini intinya tentang self and indie publishing.

Ada juga sedikit cerita tentang perjalanan salamatahari mulai dari buku, sampe jadi zine-zine-an online …

Rabu, 28 November 2012

Tapi Kita dalam Diorama*



Pengantar pameran Color of the Trap




“Kenapa milih cerita Little Red Riding Hood ?” tanya Dea kepada Sir Dandy
“Surealis aja. Interaksi anak kecil sama serigala. Hutan. Thriller. Nenek-nenek. Saya juga sempet baca beberapa interpretasi tentang warna merah hood-nya,” sahut Sir Dandy.
“Oh, ya? Emang apa?”


###

Di dalam  salah satu dongeng garapan Grimm Brothers tersebut, seorang gadis kecil bertudung merah pergi menuju rumah neneknya. Tanpa ia sadari, diam-diam hutan yang ia lintasi menghisapnya masuk ke dalam bahaya. Seekor serigala mengintainya penuh minat. Serigala berhasil membujuk gadis kecil yang lugu untuk berlama-lama di dalam hutan, sementara Si Serigala sendiri lebih dulu berlari mencapai rumah Sang Nenek.

Tak ada kesempatan untuk berkilah …*

            Begitu tiba, serigala menerkam Sang Nenek. Singkat cerita, gadis kecil yang datang beberapa saat kemudian lagi-lagi termakan tipu daya serigala. Serigala yang menyamar menjadi nenek berhasil membujuk gadis kecil bertudung merah untuk mendekati dirinya kemudian … HAUMMM!
  Sang Karnivora menerkam Si Imut-imut bulat-bulat.

Untuk selamanya masa itu menguasaimu …*

Makhluk Apakah Itu?





Aroma kentang menelusup dari jendela rumah Mister Potato. Cippy dan Dea yang kebetulan sedang lewat di sana segera berhenti.

“Mister Potato pasti sedang membuat kripik kentang! Kamu sudah pernah mencoba kripik kentangnya, Dea?” tanya Cippy.
Dea menggeleng.
“Kita minta, yuk,” ajak Cippy.

Cippy dan Dea mengintip dari jendela. Tampak Mister Potato tengah mengangkat kentang-kentangnya dari wajan. Kentang-kentang Mister Potato terlihat renyah dan tipis-tipis. Warnanya kekuningan bersalut bumbu. Air liur Cippy dan Dea terbit melihatnya.

Tiba-tiba tatapan Mister Potato menangkap kedua anak itu. “Hei, Cippy, Dea, sedang apa di situ? Ayo masuk,” panggil Mister Potato
Tanpa perlu diminta dua kali, Cippy dan Dea masuk ke dalam rumah Mister Potato.

Bukannya Hantu, Hanya Teman Baru*





Rumah Cippy berbentuk bebek raksasa yang terletak persis di atas danau. Dindingnya terbuat dari karet yang wangi sabun bayi. Jendelanya menghadap persis ke rerumputan. Rumah Cippy adalah salah satu rumah favorit Dea di SMAXVille. Jika menginap di sana, Dea selalu suka bangun pagi-pagi, duduk menghadap jendela, sambil mendengarkan gemericik air danau dan burung-burung. Jika hari sedang cerah, benderang matahari yang jatuh di atas rumput membuat pagi di SMAXVille semakin menyenangkan. Kupu-kupu yang cantik warna-warni terbang di sekitar rumput dan cahaya pagi menangkap pesona mereka.

Pada suatu pagi yang cerah dan hangat, ketika Dea sedang duduk-duduk santai menghadap jendela rumah Cippy, Cippy menepuk pundak Dea.

“Kwek, kamu bisa berenang, tidak? Kita berenang, yuk!” ajaknya tiba-tiba.
“Bisa, dooong … ayo saja,” Dea tidak menolak.

Maka Dea dan Cippy segera bersiap-siap. Ketika kedua anak itu berlari-lari keluar rumah, tak sengaja Dea mendapati ban dan kacamata berenang tergeletak di sebelah rumah Cippy. 


“Cippy, itu punya kamu kan ya?” tanya Dea.
“Kwek, kwek, iya, Iya.”
“Nggak mau kamu pakai?” tanya Dea lagi.

Tersenyumlah, Musim Semi Telah Tiba



 Dimuat di Majalah Travelounge edisi Agustus 2012

===========================================




Di lapangan pekan raya Canstatter Wasen, tak jauh dari sepotong jalan yang dilalui kereta antar kota di Stuttgart, Jerman, bau makanan manis berhamburan menjemput pejalan kaki. Derak kereta yang menggilas rel besi tak dapat menggilas suara-suara kegembiraan yang tumbuh di antara warna-warna Fruehling Festival, Festival Musim Semi yang digelar setiap bulan April hingga Mei di kota tersebut. Setelah musim gugur yang sendu dan musim dingin yang beku, akhirnya matahari muncul kembali dan bunga-bunga mulai bersemi. Festival ini adalah salah satu festival musim semi terbesar di Eropa. Istimewanya lagi, di Jerman, Fruehling Festival hanya berlangsung di kota Stuttgart dan Munich.

Banyak pengunjung – terutama pemuda dan pemudi – mengenakan pakaian tradisional Jerman. Gadis-gadis tampak seksi dalam drindl, blus putih tipis sabrina yang dilapis dengan rompi pas badan, serta rok katun lengkap dengan celemeknya yang serasi. Sementara para pemuda tampak gagah dalam lederhosen, celana kulit selutut yang divariasikan dengan jaket, topi, dan bertelnya. Pakaian tradisional Jerman yang secara keseluruhan disebut tracht ini juga dijual di Fruehling Festival. Harganya cukup mahal, satu paket lengkap dapat mencapai lebih dari 100 euro alias Rp 1.200.00,00. “Ini kulit asli,” ujar sang penjual sambil menunjukkan sepotong celana lederhosen.