The Lonely Clown

Once upon a time, there was a town that filled with joy and laughter. The citizens were clowns. They had red nose and well-known as skillful jugglers.



When every baby clown was born, Circus Fairy gave them different gifts.

Though the gifts were different, to every Baby Clown, Circus Fairy always whispers a same message, “Dear Little Clown, one day, you must use the gifts for good things…”

foto dok. Nurul Adhim



Dongeng simfonik adalah perpaduan antara dongeng dan komposisi orkestra. Formatnya, seorang narator membacakan cerita, sementara orkestra mengiringi dengan musik yang ilustratif. Dalam pementasannya, karya ini kerap dilengkapi pertunjukan teater dengan panggung menarik. 

"The Lonely Clown" adalah dongeng simfonik yang diproduksi oleh Bandung Philharmonic Orchestra dan berkolaborasi dengan Red Nose Foundation

Liputan pertunjukan ini dapat dibaca di The Asian Parents

 

Sutradara : Mario Hasan
Musik: Fauzie Wieriadisastra
Musisi: Bandung Philharmonic
Dongeng : Sundea
Pleatih Sirkus: Nurul Adhim (Red Nose Foundation)
Tata Panggung: Aris dan Sofie
Tata lampu: Wilson Nicander
Panggung : IGM Pandu
Kostum: Laura
Face painting : Michelle Efferin

Diperankan oleh:

Matthew sebagai Red Notes Clown
Putra sebagai Balkie
Indri sebagai Clubithia
David sebagai Ring-a-Ding 


"The Lonely Clown" adalah dongeng simfonik kedua yang Dea tulis setelah "Monsters Under the Bed" yang dipentaskan akhir tahun 2018

 

Comments