Literasi Indie dan Minuman Bersoda


Dimuat di majalah Bukune 2007. Lupa no.edisinya. Ada yang inget?
================================================

(Ultimus:14 Desember 2006)


Pada suatu malam yang cukup hangat untuk ukuran kota Bandung, saya mengunjungi seorang teman.
“Gue punya minuman. Mau, nggak, De?”
“Boleh.”
            “Bentar, ya, gue ambilin gelas dulu.”
            Saya mengangguk.

Ketika teman saya pergi mengambil gelas, saya mengamati botol minuman di meja kerjanya. Merknya “Ultimus: 14 Desember 2006”. Warnanya hitam kecokelatan. Sepertinya minuman ini masih segar dan baru dijemput dari kulkas. Botol plastiknya masih rapat diliputi embun dingin. Hmm…sepertinya enak. Pasti sejuk sekali meneguk Ultimus: 14 Desember 2006 di malam yang hangat itu.


            Bersisian dengan botol Ultimus:14 Desember 2006, berdiri sebuah gelas kaca. Di dalamnya menggenang Ultimus: 14 Desember 2006 yang tinggal separuh. “Ini pasti punya teman saya,” duga saya. Saya mendekatkan hidung saya ke bibir gelas tersebut…dan…hmmm…aroma harum Ultimus:14 Desember melayang-layang menyusupi hidung saya.
            Beberpa jenak kemudian, teman saya kembali dengan sebuah gelas plastik. “Ini, De, buat lo,” katanya seraya meletakkan gelas tersebut di hadapan saya. Ketika teman saya mulai menuang Ultimus:14 Desember 2006 tersebut ke gelas saya, saya mendekatkan hidung saya ke bibir gelas, tetapi “Aduh!” saya terlonjak kaget ketika tiba-tiba sejumlah buih yang kecil-kecil sekali secara bertubi berloncatan menyentili hidung saya. “Awas, De,” teman saya memperingatkan.
            Saya menarik tubuh saya mundur sedikit. Buih-buih itu masih berlompatan tak menentu; sebagian kembali ke dalam gelas, sebagian lagi terjun ke atas meja. Bersamaan dengan itu busa putih merayap naik dengan cepat sekali, diiringi bunyi “crrrrs…” yang mirip sumbu petasan yang baru disulut. Riuh dan membuat panik.
            “Minuman ini bersoda,” jelas teman saya. “Oh,” sahut saya pendek. Busa merayap semakin tinggi tetapi teman saya masih belum berhenti menuang Ultimus:14 Desember 2006 ke gelas saya. “Aw…was…nanti tum..pah, lho,” ganti saya yang memperingatkan. Tapi teman saya tidak mendengar.
            Pada busa putih yang merayap naik itu, saya melihat peristiwa. Saya lalu mencoba membacanya.

            Ultimus 14 Desember 2006.
            Diadakan sebuah diskusi bertema marxisme. Diskusi itu berlangsung baik-baik saja, sampai tahu-tahu  aparat polisi dan segerombol masyarakat yang mengaku sebagai masyarakat (yang mencintai) Bandung menyeruduk masuk. Mereka membubarkan diskusi dengan alasan diskusi itu diadakan tanpa izin dan  masyarakat (yang mencintai) Bandung ingin Bandung aman dari ancaman komunis. Lalu beberapa orang dibawa ke polwiltabes. Lalu Ultimus disegel. Lalu selama beberapa hari ke depan beberapa teman dikenai wajib lapor dan terpaksa berperkara dengan aparat.
            Kelompok literasi indie yang menjantungi berbagai komunitas di Bandung sempat ikut  seru. Kesusahan Ultimus, teman yang berdegup bersama mereka, merupakan kesusahan mereka juga.
                       
            Begitu menyentuh bibir gelas, sebelum sempat saya baca degan seksama, busa putih itu tahu-tahu merayap turun, sama cepatnya dengan ketika naik. Bunyi “crrrrs…”-nya yang saya bilang mirip petasan tadi meredam tanpa ledakan. Saya kembali mendekatkan hidung saya ke bibir gelas, tetapi buih-buih kecil yang tadi melompat bertubi-tubi telah menjinak. Mereka hanya berenang berkelompok di permukaan Ultimus: 14 Desember 2006 dalam gelas saya, kemudian  bercerai. Baur dengan hitam kecoklatan Ultimus: 14 Desember 2006. Setelah itu Ultimus:14 Desember 2006 di dalam gelas saya jadi setenang air danau. Lalu ini yang terbaca di sana:

            Ultimus buka kembali. Begitu saja. Gerakan literasi indie kembali berdegup sehat.

That’s it? Setelah semua kehebohan yang ditimbulkannya, busa itu berakhir begitu saja. Dia seperti terbit dan tenggelam tanpa arti.
            Saya meraih gelas saya, mengangkatnya sejajar dengan mata, lalu mengamatinya. Setelah busa surut, isi gelas itu ternyata jadi separuh.
            Ditampi, ya.”
            Mangga…
            Saya mulai menyeruput Ultimus:14 Desember 2006 saya. Tetapi…jrrrt…saat  Ultimus: 14 Desember 2006 menyentuh lidah saya, saya terkejut. Tahu-tahu lidah saya seperti mendapat setruman ringan. “Kenapa, De? Enak ‘kan?” tanya teman saya. “Nmm…,” saya menghayati rasa Ultimus:14 Desember 2006 yang masih tinggal di lidah saya, “manis…seger… tapi nyetrum,” lanjut saya. Teman saya tergelak mendengarnya.
            Busa tadi ternyata bukan lenyap  tanpa arti. Dia tetap hidup dalam ketenangan Ultimus: 14 Desember 2006; siap memberi kejutan untuk lidah-lidah yang menyentuhnya. Pada kadar tertentu, kejutan itu menjaga kita untuk tidak berhenti hidup. Tapi apa yang terjadi kalau kita meminum sebotol penuh Ultimus: 14 Desember 2006?

catatan kecil:
Ultimus adalah toko buku alternatif di daerah Lengkong, Bandung. Selain menjual buku-buku dengan harga yang lebih murah, toko buku alternatif kerap mewadahi kegiatan-kegiatan kebudayaan dan berbagai komunitas.
Pada tanggal 14 Desember 2006, Ultimus mengadakan diskusi bertema marxisme. Tiba-tiba saja diskusi itu dibubarkan oleh aparat dan Ultimus sempat disegel untuk beberapa waktu.

Comments