Fragile

Dimuat di zine Minor bacaankecil edisi "Mobil Tinja" (04), 2004


==============================


On and on the rain will say
How fragile we are
(Fragile, Sting)

Fragile mahasiswi kampus kami. Dia mengalami gangguan mental setelah tahu Angin tidak mencintainya. “Kasihan, ya, gara-gara cowok doang,” komentar seorang teman. Saya cuma tersenyum. Separuh diri saya membenarkan, tapi separuh lagi sangsi. Apa betul masalahnya sesederhana “gara-gara cowok doang” ? Saya menyimpan kasus itu dalam hati dan kepala saya.Selama beberapa minggu hati dan kepala saya berdiskusi. Kemudian lahirlah cerita ini :




          Namanya Fragile. Gadis sederhana. Manis dan mungil. Bungsu dari tiga bersaudara. Ayahnya sudah meninggal lama. Ibunya punya warung kecil di rumah. Kakak perempuannya yang pertama sudah menikah, punya dua orang anak. Kakak perempuannya yang ke dua tidak menikah. Fragile tinggal bersama Ibu, kakak-kakak, ipar, dan keponakan-keponakannya di sebuah rumah sederhana di Bandung.

            Namanya Fragile. Gagah berani dengan segala keterbatasannya. Dia melompat dari Bandung ke Jatinangor. Melompat dari dunia rumah tangga ke dunia kampus. 

Ternyata kampus mengejutkan Fragile. Keliarannya menerkam prinsip yang selama ini dipeluk Fragile. Maka Fragile harus mencari pegangan baru. Fragile pun merambahi semua kegiatan kampus mencari orientasi.

Dalam pencariannya Fragile jatuh cinta pada Angin. “Saya akan memeluk Angin,” Fragile memutuskan. Fragile percaya pada Angin. Saat memeluk Angin, Fragile mengosongkan dirinya, menitipkan isi jiwanya pada Angin.

Namun Angin adalah Angin. Dia terlalu abstrak untuk dipeluk. Pada suatu hari Angin meninggalkan Fragile. Bukan salah Angin karena Angin tak pernah menjanjikan apa pun. Bukan salah Fragile juga karena Fragile memang tidak mengerti. Tapi Fragile sudah keburu menitipkan isi jiwanya pada Angin. Angin pergi begitu saja membawa seluruh jiwa Fragile. Fragile yang kosong menjadi rapuh lalu pecah berkeping-keping.

Sekuat tenaga Fragile berusaha menyusun kembali kepingan-kepingannya. Tanpa perekat karena perekatnya sudah dibawa pergi oleh Angin.

Seperti yang sudah saya bilang, Fragile gagah dalam segala keterbatasannya. Sampai beberapa bulan dia sanggup membawa susunan kepingannya bulak-balik Bandung-Jatinangor.

Walau begitu kepingan yang tidak terekat baik tak akan benar-benar kuat. Pada suatu hari sesuatu menyenggol Fragile hingga Fragile terburai lagi. Sesudah hancur yang ke dua, Fragile tak pernah kembali ke kampus.

Bungkus memang selalu tampak lebih nyata daripada isi, itu sebabnya bungkus selalu jadi tertuduh. Tanpa penelaahan, penyerangan penjara Bastile akan dituduh sebagai penyebab utama Revolusi Perancis. Tanpa penelaahan, cinta yang tak berlogika akan dituduh sebagai penyebab utama keterkepingan Fragile. Padahal ada yang lebih esensial daripada sekedar “cowok doang”. Fragile bukan kehilangan Angin, tapi kehilangan diri dan prinsipnya.

Tiap individu punya prinsip untuk dipeluk. Prinsip itu tumbuh bersama seluruh jiwa pemiliknya kemudian menjadi tolok ukur tindakan mereka. Semakin luas lingkup hidup seseorang, semakin fleksibel dan tangguh prinsipnya. Sebaliknya, semakin sempit lingkup hidup seseorang, semakin rapuh prinsipnya. Yang paling parah, prinsip rapuh itu akan mudah hancur jika dibawa keluar dari lingkungannya yang sempit.
Fragile adalah gadis sederhana dari lingkungan tradisional. Dengan memeluk prinsipnya yang sahaja, ia pergi 
kuliah.

Sebentar saja Fragile melihat hal-hal baru yang bertentangan dengan kesantunan yang dianutnya. Prinsipnya tergoncang. Namun goncangan itu tidak membuat Fragile pulang ke lingkungan lamanya. Meskipun prinsip lamanya luluh lantak, Fragile tak segera hancur bersama prinsip itu. Dengan segala keterbatasan ia berusaha membangun prinsip baru yang lebih  portable.

Lingkungan kampus kaya dan luas sementara Fragile tak punya arahan. Tidak mudah meramu materi asing lalu membangunnya menjadi prinsip. Saya tahu Fragile sebetulnya sangat lelah.

Hingga pada suatu hari Fragile bertemu Angin. Perasaan Fragile pada Angin lebih kompleks daripada sekedar jatuh cinta, Fragile meyakini Angin. Ia membangun sebuah prinsip dengan Angin sebagai fondasi. Angin harus tinggal agar konstruksi Fragile tidak hancur. Namun Angin  ternyata tak terpeluk, maka….Brakkkk!!!!

Fragile bukan perempuan lemah yang dihancurkan cinta, ia gadis tangguh yang baru hancur setelah dua kali kehilangan prinsip. Kesederhanaan prinsip yang pernah dimilikinya membuat Fragile dengan sederhana pula menerjemahkan keyakinannya pada Angin sebagai jatuh cinta saja.

Padahal tanpa kelelakiannya pun Angin tetap akan menjadi fondasi Fragile. Dalam hal ini kehadiran dan kepergian Angin tak dapat divonis sebagai kegagahan patriarki. Dia harus dipandang sebagai Angin yang bertiup ke mana-mana. Fragile juga tak dapat dipandang sebagai  korban hegemoni patriarki. Dia adalah Fragile yang fragile karena tidak terlindungi prinsip. Dia adalah gigi tanpa email.

Sampai saat ini Fragile tidak jelas keberadaannya. Tetapi mungkin seperti cuplikan lirik lagu Fragile yang dinyanyikan Sting,

…but something in our minds will alwayas stay
Perhaps this final act was meant
to clinch a lifetime’s argument…

Lalu semuanya menjadi titik t i t i k   t...i…t… i…k ….. t…..i…..t ….i…….k …………

                                                                                    Bandung, 8 Juni 2004

*Artikel ini pernah dimuat  dalam majalah indie Minor edisi “Mobil Tinja”.
  Dikirimkan untuk majalah Bukune setelah mengalami sedikit revisi dari penulisnya.

Comments