Cinta-cinta Milik Kasih


Dimuat di KaWanku no. 34/XXIX 14-20 Februari 2000
yang diposting ini versi asli yang belum diedit majalah KaWanku
 =============================

Mustahil jika kamu tidak bisa menemukan cinta di kamar Kasih. Kamar Kasih penuh sesak dengan cinta.
Ada cinta yang digantung di tembok kamar, disimpan di laci meja belajar, bahkan ada pula cinta yang sampai disimpan di kolong tempat tidur. Kasih adalah anak yang dilimpahi cinta. Tak habis-habisnya keluarga dan teman-teman Kasih memberikan cinta mereka kepada Kasih.
Tapi limpahan cinta yang diterima Kasih justru membuat Kasih bingung sendiri. Kasih tidak tahu harus menyimpan cinta-cintanya di mana lagi. Baru-baru ini Kasih jadian dengan Sean, bintang basket sekolah. Sean memberikan lebih banyak lagi cinta untuk Kasih. Kasih bahagia, tapi bingung juga.
Hari ini Sean memberikan dua kantung penuh cinta untuk Kasih. “Hari ini saya harus memberimu cinta lebih banyak dari biasanya. Ini Valentine,”kata Sean ketika memberikan cintanya sepulang sekolah. Kasih cuma bisa mengucapkan terima kasih sembari tersenyum.
Tetapi begitu tiba di rumah, Kasih langsung melemparkan cinta barunya di kasur. “Cinta lagi, cinta lagi. Banyak sekali,”keluh Kasih.
Sebentar kemudian Bunda Kasih masuk sambil meletakkan sebuah kaleng sebesar kaleng susu bubuk di meja belajar Kasih, “Kasih, lihat, deh, Bunda punya sekaleng cinta untuk kamu. Suka, nggak,”tanya Bunda. Dengan terpaksa, karena tidak ingin membuat Bundanya kecewa, Kasih mengangguk. “Ya sudah. Bunda cuma mau memberikan itu saja. Selamat Valentine, sayang,”Bunda mengusap kepala Kasih seraya meninggalkan puteri tunggalnya itu. “Tuh ‘kan cinta lagi,”desah Kasih tak berdaya. Ia menatap seluruh kamarnya yang nampak sesak dengan cinta. Laci meja belajar Kasihpun sampai tak bisa ditutup. “Apa yang harus kulakukan dengan semua cinta ini? Membuangnya? Mana tega? Setiap cinta punya arti dan terlalu indah untuk dibuang,”batin Kasih. Dengan putus asa Kasih membantingkan tubuhnya di atas kasur. Ia tertidur berbantal dan berguling cinta.
“Psst…halo,”tiba-tiba Kasih mendengar sebuah bisikan lembut. Kasih mengerjap lalu menoleh ke arah suara itu. “Siapa kamu,”tanya Kasih sembari menggosok-gosok mata baru bangunnya yang masih belum dapat melihat dengan jelas. “Saya Bidadari Cinta,”sahut si pembisik. “Apa? Kamu mau memberikan cinta lagi untuk saya? Aduuuh…makasih, deh, sudah kebanyakan, nih,”Kasih bersiap-siap tidur kembali ketika si Bidadari menarik krah seragam SMU Kasih,”Eeeeh…ge-er amat, sih, kamu? Saya justru datang ke sini untu membantumu mengurusi tumpukan cinta kamu itu,tahu,” kata si Bidadari. “Oh, ya,” Kasih langsung duduk di atas kasurnya. “Kumpulkan cinta-cintamu. Kita akan membawanya jalan-jalan,”suruh si Bid. Kasih menurut. Ia mengumpulkan cinta-cintanya ke dalam sebuah ransel yang sangat besar.
“Kita mau ke mana,”tanya Kasih pada Bid. “Keliling-keliling. Pertama, kita pergi ke Pondok Indah,”kata Bid. “Naik apa,”tanya Kasih. “Taksi, dong, jangan kayak orang susah,”ujar Bid. “Taksi? Memangnya kamu bawa uang,”protes Kasih. “Pokoknya ada, deh, yuk,”Bid menyetop sebuah taksi.
“Ke mana,”tanya si supir taksi berwajah seram. “Pondok Indah,”sahut Bid tenang. Taksi melaju terus membawa Bid yang nampak tenang-tenang saja, Kasih yang khawatir, dan si supir taksi yang lebih dingin dari kulkas.
“Lima belas ribu,”umum si supir taksi begitu Bid dan Kasih tiba di tempat tujuan. Kasih melirik Bid minta pertanggung jawaban. “Kami nggak punya uang,”kata Bid santai. Kasih mendelik kaget. “Tapi kami punya ini,”lanjut Bid sambil mengambil sebuah cinta dari ransel Kasih. “Oh,”si supir taksi terkejut. Ia menerima cinta yang disodorkan Bid lalu mengamat-amati cinta yang baru didapatnya itu. Lama-lama wajah kelamnya melunak dan dia tesenyum ramah sekali,”Terima kasih. Sudah lama saya tidak melihat cinta. Benda ini indah sekali, ya.”
“Ternyata cinta bisa membuat orang sebahagia itu, ya,”Kasih takjub. “Memang. Kamu baru sadar ‘kan,”Bid menarik tangan Kasih, “Nih. Sekarang kita ke rumah itu, tuh,”kata Bid sembari menunjuk sebuah rumah besar yang dikelilingi pagar tinggi berduri-duri. “Di dalam situ ada seorang anak delapan tahun, namanya Rio. Dia anak tunggal seperti kamu. Bedanya, orangtua Rio terlalu sibuk, tidak sempat memberikan cinta untuk Rio. Mereka membelikan Rio apa saja; komputer, play station, uang jajan melimpah, semuanya kecuali cinta,”kisah Bid. “Terus,”tanya Kasih bloon. “Tugas kita memberi Rio cinta, dong, kamu ini gimana, sih,”Bid merogoh ransel Kasih dan mengambil kaleng cinta yang baru diberikan oleh Bunda Kasih tadi. “Rio!”panggil Bid. Tidak ada sahutan. “Rioooo!!!!”panggil Bid lebih keras. Sebentar kemudian muncul anak laki-laki tambun berwajah menyebalkan. “Apaan, sih? Gue lagi maen PS, neeeh!!! Jangan ganggu, dong!!”kata anak laki-laki itu tidak ramah. “Nggak. Kami nggak lama-lama, kok. Cuma mau ngasih ini aja,”kata Bid sembari memberikan kaleng cinta Kasih dari sela-sela pagar. Rio menerima kaleng yang diberikan Bid dengan kening berkerut. Dengan kasar dibukanya kaleng itu. “Cinta?”tanya Rio heran tapi bahagia. “Cinta dari seorang mama,”wajah tidak ramah tadi berubah menjadi manis. “Kalian baik sekali. Aku…nggak tau harus bilang apa…,”kata Rio sambil masih mengamati takjuub cinta yang baru diperolehnya. “Simpan saja cinta itu baik-baik,”pesan Bid. “Ya sudah. Kami pergi dulu, ya,”Bid menarik tangan Kasih lagi.
“Sekarang ke rumah sakit. Saya kenal seseorang yang sakit parah, nggak mau makan, nggak punya semangat,”cerita Bid. “Kenapa dia,”tanya Kasih. “Suaminya meninggal dua minggu yang lalu. Dia sangat kehilangan,”jawab Kasih.
Sebentar saja Bid dan Kasih sudah tiba di rumah sakit yang dimaksud Bid. Bid dan Kasih langsung naik ke lantai tiga dan masuk ke kamar VIP.
Di kamar itu berbaring seorang perempuan yang mirip mayat. Wajah perempuan itu pucat, matanya kosong, rambutnya berantakan, dan tubuhnya kurus sekali. Slang infus terpasang di tangan kirinya. Kasih merinding melihatnya. “Kita akan memberinya sekantung cinta dari Sean, dia butuh itu. Cinta dari Sean sangat indah, iya ‘kan,”Bid menyikut Kasih. Kasih mengangguk mengakui. Bid meletakkan kantung cinta dari Sean di sisi tempat tidur si “mayatwati”. “Pengaruhnya tidak akan langsung terlihat, tapi cinta ini pasti akan membawa pengaruh yang luar biasa. Saya berjanji, suatu saat kamu akan melihat hasil dari cinta yang kamu sumbangkan ini, Sih,”kata Bid. Kasih mengangguk percaya. “Cepat sembuh, ya, bu,”pesan Kasih sebelum dia dan Bid meninggalkan rumah sakit.
Hari itu Bid mengajak Kasih keliling kota. Cinta-cinta milik Kasih dibagikan ke mana-mana. Pada anak-anak anti asuhan, manula-manula di rumah jompo, sampai pada banci-banci yang mengamen di kolong jembatan Pancoran.
Kasih melihat sendiri pengaruh yang ditimbulkan oleh cinta-cinta yang dibagikannya. Indaaah…sekali. Baru hari ini Kasih merasa betul-betul menikmati cinta-cinta miliknya. Kasih justru merasa cintanya semakin banyak ketika ia memberikan cinta itu kepada orang lain.
Kasih dan Bid kembali ke rumah ketika hari sudah mulai gelap. Ransel Kasih sudah kosong, tetapi ada bagian lain dalam diri Kasih yang menjadi penuh.
“Terima kasih, ya, Bid, hari ini aku betul-betul bahagia,”ungkap Kasih. Ia menyandang ranselnya di bahu. “Kamu tahu rahasia cinta, Sih,”tanya Bidadari Cinta. Kasih menggeleng. “Cinta itu untuk dibagikan, bukan untuk disimpan. Kamu tidak akan tahu indahnya cinta jika kamu menyimpan cinta itu untuk dirimu sendiri. Sebanyak apapun kamu membagikannya, cintamu takkan pernah habis,”tutur Bidadari Cinta bijak. “Aku paham,”angguk Kasih. “Nah, sudah, ya. Selamat Valentine, Sih,”lambai si Bidadari Cinta.
Sejak saat itu, Kasih selalu membagikan cintanya kepada orang lain. Kasihpun menjadi anak yang berlimpah cinta dan bahagia.

***
Pada suatu hari, lama setelah Valentine, seroang teman merusak semua cinta Kasih. Kasih duduk sendirian di taman, sedih dan kecewa.
T

Comments