Air dan Api di Tobucil

"Editorial" blog Tobucil edisi 6 April 2009

===========================

Selain tanah, udara, dan kayu, dalam lima elemen dasar terdapat pula air dan api. Di antara keduanya, terjalin love-hate relationship. Yang satu membunuh yang lain, namun justru karena itu pulalah mereka saling menyeimbangkan.

Minggu lalu, kedua elemen tersebut hadir cukup sering di Tobucil. Api hadir pada terminal kabel yang terbakar, lalu air hujan turun menyongsong asapnya.  Api garangan hadir dalam cerpen Shinta, lalu air laut menyambutnya dalam cerpen Rini. Di tengah madrasah filsafat, kubu freelancers yang panas dan berapi-api dibasuh oleh kubu pekerja tetap yang dingin dan cair. Dan letupan api “Teman Tobucil” kita minggu ini, disejukkan oleh sebuah kisah cinta platonis yang berlangsung enam belas tahun lamanya.

Air dan api adalah dua elemen bertentangan yang kerap hadir berdampingan. Seperti putih dan hitam. Seperti gugur dan semi. Seperti malam dan siang. Seperti dua sisi mata uang.  Sesungguhnya mereka adalah pertentangan yang saling mengutuhkan; yang satu bukan membunuh lainnya, melainkan mengingatkannya untuk eksis secara proporsional.

Air dan api adalah kata yang sama-sama terdiri dari tiga huruf.
Keduanya diawali huruf “a”, namun menempatkan “i” pada susunan yang terbalik.

Teman-teman, terima kasih karena telah menjadi penyeimbang kami …
Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler



Comments